Artikel
MAHASISWA UNIVERSITAS AIRLANGGA GELAR EDUKASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN SABUN DARI MINYAK JELANTAH DI DESA BUNGAH
Bungah, 19 Juli 2025 Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam program BBK 6 (Belajar Bersama Komunitas) menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk “Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Produk Ramah Lingkungan”. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada Sabtu siang, 19 Juli 2025, dan dihadiri oleh para anggota PKK Desa Bungah.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya kaum ibu, agar lebih bijak dalam mengelola limbah rumah tangga seperti minyak jelantah, yang selama ini kerap dibuang sembarangan ke saluran air atau digunakan kembali untuk memasak padahal keduanya berdampak buruk, baik terhadap kesehatan maupun lingkungan.
Minyak jelantah, atau minyak goreng bekas, merupakan salah satu limbah dapur yang paling umum ditemukan di rumah tangga Indonesia. Sayangnya, sebagian besar masyarakat masih membuangnya ke tanah, selokan, atau bahkan menggunakan kembali minyak yang sama berkali-kali untuk menggoreng. Padahal, selain dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti kanker dan kolesterol tinggi, minyak jelantah juga dapat mencemari lingkungan, menyumbat saluran air, dan merusak ekosistem tanah.
Melalui kegiatan edukasi ini, mahasiswa BBK 6 Universitas Airlangga memberikan penjelasan ilmiah dan praktis tentang bahaya minyak jelantah, sekaligus solusi kreatif berupa pembuatan sabun batangan dan sabun cuci cair dari minyak bekas tersebut.
Acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan sambutan dari Ketua PKK Desa Bungah, yang menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para mahasiswa dan kontribusi positif mereka terhadap warga desa.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini karena tidak hanya menambah pengetahuan bagi ibu-ibu PKK, tetapi juga memberi solusi nyata untuk limbah dapur yang sering menjadi masalah,” ujar Ibu Yatimatul.
Setelah sambutan, mahasiswa Universitas Airlangga menyampaikan materi edukatif mengenai:
- Kandungan kimia dalam minyak jelantah dan bahayanya,
- Dampak pencemaran lingkungan akibat limbah minyak,
- Proses saponifikasi (reaksi pembuatan sabun),
- Potensi ekonomi dari produk sabun daur ulang.
Materi disampaikan secara interaktif, diselingi tanya jawab, dan dibantu dengan poster edukatif serta video singkat proses pembuatan sabun. Para ibu terlihat antusias dan banyak yang mencatat tahapan penting untuk dipraktikkan sendiri di rumah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung membuat sabun dari minyak jelantah. Bahan-bahan yang digunakan antara lain:
- Minyak jelantah yang telah disaring,
- Larutan NaOH (soda api) sebagai bahan utama reaksi,
- Air matang,
- Minyak esensial (sebagai pewangi),
- Pewarna makanan (opsional),
- Cetakan sabun.
Peserta PKK mewakili cara pembuatan sabun dan didampingi mahasiswa untuk mencoba membuat sabun batangan dan sabun cair secara langsung. Semua peserta menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker demi keamanan selama proses berlangsung.
Tak hanya sekadar praktik, mahasiswa juga memberikan gambaran potensi ekonomi dari sabun jelantah. Dengan modal yang relatif murah dan bahan yang tersedia di rumah, produk sabun ini bisa dijual kembali ke masyarakat sekitar, sekolah, atau bahkan dipasarkan secara daring.
“Saya baru tahu kalau minyak bekas bisa jadi sabun. Biasanya cuma dibuang atau dipakai lagi buat goreng. Sekarang malah bisa jadi peluang usaha rumahan,”
Ibu Kepala Desa yang turut hadir dalam kegiatan ini, menyatakan dukungannya terhadap program kreatif yang mengedukasi sekaligus memberdayakan masyarakat.
Kegiatan edukasi dan pembuatan sabun dari minyak jelantah oleh mahasiswa Universitas Airlangga ini menjadi bukti bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan dapat dimulai dari dapur rumah tangga. Dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemauan untuk berubah, limbah sederhana seperti minyak bekas pun dapat disulap menjadi produk yang berguna dan bernilai ekonomi.
Program ini tidak hanya menciptakan kesadaran baru di kalangan ibu rumah tangga, tetapi juga membuka jalan bagi pemberdayaan perempuan melalui inovasi kecil yang berdampak besar. Dengan semangat gotong royong, Desa Bungah kini selangkah lebih maju menuju desa yang berwawasan lingkungan, mandiri, dan berdaya saing.